Menjelajah Malinau di Tanah Borneo Timur

Juni 2012 lalu, aku pergi bersama dua belas mahasiswa Universitas Indonesia lain ke Kalimantan dalam "Ekspedisi Khatulistiwa". ...


Juni 2012 lalu, aku pergi bersama dua belas mahasiswa Universitas Indonesia lain ke Kalimantan dalam "Ekspedisi Khatulistiwa". Menjelajah tanah Borneo sekaligus menelitinya. Ekspedisi ini diselenggarakan oleh Kopassus dengan menggalang TNI AD, AU, dan AL. Tugas TNI terbagi menjadi dua, yaitu penjelejahan guna mengecek patok perbatasan antar negara dan pengawal para peneliti yang mengumpulkan data-data tentang Kalimantan.
Saya dan Rei, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, ditempatkan di Malinau, salah satu kabupaten di Kalimantan Timur. Menurut para tentara medan Malinau lah yang paling berbahaya karena berada di dataran tinggi dibanding tujuh wilayah penjelajahan lain seperti Kutai Barat, Nunukan, Sambas, Sanggau, Kapuas Hulu, Murung Raya, dan Hulu Sungai Tengah. Memang sampai di Malinau bukan perjalanan yang mudah karena kami harus terbang ke Pulau Tarakan, ujung utara Kalimantan,  lalu lanjut menaiki long boat selama kurang lebih empat jam mengarungi Sungai Mentarang.
23 Juni 2012 siang kami berhasil sampai di pos utama Malinau yang berada di Desan Singai Terang, desa terujung yang mendapat pasokan listrik. Semakin ke hulu sungai, desa tersebut makin terpencil dan jauh dari peradaban. Dan yap, itulah poin petualangan kami bersama TNI.
Aku dan Rei masuk ke dalam divisi Sosial Budaya maka dari itu kami menjelajah desa-desa terpencil. Mulai Desa Loreh, Desa Paking, Desa di hulu sungai yang hanya dihuni tujuh rumah di tengah hutan, dan desa lainnya.
Petualangan kami terus berlanjut sampai awal Juli 2012 karena mengawali puasa tahun lalu. Maaf tak banyak yang bisa kuceritakan karena memori petualangan di Malinau terlalu luas dan liar jika hanya diceritakan dalam blog ini.

Kumpulan foto berikut adalah sebagian kecil dokumentasi yang aku dapat selama di tanah Borneo.
Rumah bermotif yang ada pada foto adalah rumah adat Dayak, Lamin namanya. Motif melingkar yang menjadi ciri khas Dayak diketahui bermakna bahwa Dayak merupakan suku yang besar dan bermacam, namun tetapi terkait satu sama lain sebagai keluarga.
Totem dengan ukiran burung Enggang merupakan salah satu maskot Dayak Kenyah.
Sungai dalam foto paling bawah adalah Sungai Mentarang yang melintas di belakang Desa Singai Terang sebagai sarana mandi, bermain, mencuci, dan sumber air masyarakat yang didominasi Dayak Lundayeh.
And... That's me at Sepinggan Airport, Balikpapan.


________Miss that adventure__________

foto: koleksi pribadi


You Might Also Like

0 la la words

Thank You for your comment. I am really apreciate it.
Just write down your link, i will visit you back. Come again :)

Flickr Images