Tuhan itu Tak Perlu Kapital

Aku bicara pada-Nya. Aku bicara padanya. Melihat dua kalimat itu, tentu siapa saja aku bicara kepada siapa di kalimat pertama dan...

Aku bicara pada-Nya.

Aku bicara padanya.


Melihat dua kalimat itu, tentu siapa saja aku bicara kepada siapa di kalimat pertama dan kepada siapa di kalimat kedua. Ya, menurut EYD dan budaya masyarakat kebanyakan kamu harus menggunakan huruf kapital jika menyebut Tuhan dan huruf kecil untuk selain Tuhan. Seperti contoh di atas.

Pertanyaanku, "kenapa?"

Kenapa harus dibedakan?
Dalam artian perbedaan tersebut sangat mengekslusifkan Tuhan. Bagiku, seharusnya Tuhan bisa dekat dengan kita. Dengan hati kita, mata kita matanya, rasa kita rasanya, sakit dan bahagiaku bisa untuk dan karenanya. Sedekat itulah Tuhan, bahkan lebih dalam. Huruf kapital telah memberikan jarak antara aku (kita) dan Tuhan.
Aku percaya Tuhan itu dekat dan ia hangat kepada umatnya. Dan aku merasa tidak ingin terlalu jauh dengannya bahkan dengan sebuah huruf kapital.


NB: No offense

You Might Also Like

0 la la words

Thank You for your comment. I am really apreciate it.
Just write down your link, i will visit you back. Come again :)

Flickr Images