KAJANG DALAM: MENIKMATI KEBERTAHANAN DARI MODERNISASI

Pintu gerbang Kajang Dalam (Foto oleh:  P anji Junior .S.) "Selamat Datang di Kawasan Adat Amma Toa" atau biasa diken...


Pintu gerbang Kajang Dalam (Foto oleh: Panji Junior .S.)


"Selamat Datang di Kawasan Adat Amma Toa"

atau biasa dikenal dengan

Kajang Dalam

Yup! Inilah daerah yang sangat terkenal di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Daerah ini merupakan jamahan kedua saya di Ekspedisi NKRI 2013 setelah Malino di Kab. Gowa, Sul-Sel. Kajang dalam merupakan daerah yang terkenal dengan aturan adat dan mistis yang sangat kuat. Masyarakat Kajang dalam sangat mempertahankan ajaran nenek moyang oleh karena itu mereka menolak modernisasi yang menerjang seantero belahan dunia. Kebertahanan tersebut terkesan seperti mengisolasi diri dan tidak mengacuhkan globalisasi.

Akan tetapi, masyarakat tersebut menerima perubahan dunia dalam segi pendidikan. Mereka mau mengirim anak-anaknya ke sekolah dan universitas demi bisa mempertahankan komunitasnya dari ancaman luar. Hal menarik yang sangat tampak di Kajang dalam yaitu masyarakatnya yang memakai pakaian serba hitam. Turis atau masyarakat luar wajib memakai pakaian serba hitam atau gelap. Pakaian gelap menyimbolkan kesederhanaan. Mereka tidak mau menampilkan kemewahan di dunia karena mereka yakin akan mendapatkan balasan kemewahan yang jauh lebih besar dari Sang Pencipta saat mati nanti.

Tim Ekspedisi berfoto di depan rumah Kepala Desa Tanah Toa yang berada di Kajang Luar

Ini dia Tim Ekspedisi NKRI Sub Korwil Gowa sebagai perwakilan Kajang dalam. Tim kami terbagi atas tim sosial budaya (saya), tim kehutanan, dan tim flora fauna. Amma Toa, kepala adat Kajang Dalam, melarang banyak personil untuk memasuki kawasannya.

Kami tinggal di rumah kepala desa Desa Tanah Toa yang berjarak satu kilometer dari pintu gerbang "Kawasan Adat Amma Toa". Jadi, kami setiap hari selama dua minggu berjalan pergi pulang ke Kajang Dalam. Belum lagi ditambah berjalan 2 km melewati jalan setapak dari pintu gerbang ke kawasan penduduk. Latihan ekstra untuk membesarkan betis :D

Semua tim dan pemandu melakukan observasi di jalan utama Kajang Dalam (Foto oleh: Ridwan Amin)

Kuburan tua yang berada di tepi hutan adat Kajang Dalam (Foto oleh: Ridwan Amin)
Kuburan kuno ini terletak di pinggir hutan adat Kajang yang luasnya mencapai 300-an Ha. Sangat luas dan hebatnya hutan ini nggak terjamah karena label "Hutan Adat" yang melekat. Hanya Amma Toa, sang ketua adat, yang bisa memberikan izin siapa yang boleh masuk dan nggak. Kalau melanggar izin Amma Toa, masyarakat percaya bencana akan menimpa orang tersebut, entah sakit atau kematian. Cukup buat bulu kuduk berdiri, tapi saya percaya Allah swt akan melindungi kami karena kami nggak punya maksud jahat di setiap kunjungan kami di Kajang :)

Selain ke hutan, saya dan tim sosbud berbaur di masyarakat serta menghadiri undangan dari salah satu masyarakat Kajang dalam ke acara Minro Baji dengan persiapan dua hari satu malam. Hidangan yang super dalam Minro Baji adalah daging kuda rebus. Yeiy! Ini pertama kali saya makan daging kuda dan rasanya luar biasa, mirip daging sapi hanya lebih berserat. Saya nggak tau ini masakan dinamai apa, tapi hidangan daging kuda ini hanya seperti rebusan kaldu yang diberi irisan bawang. Sederhana, tapi entah kenapa luar biasa lezat. Sayangnya, saya nggak bisa menampilkan foto-foto acara ini karena entah kenapa memory card kamera saya rusak. Well, kata Ibu Desa tempat saya tinggal, kamera rusak dan foto nggak jadi itu biasa. Hmm... Saya mulai mengerti, hal ini terjadi karena Kajang Dalam merupakan desa keramat jadi nggak sembarang bisa foto-foto. Saya bersyukur bisa pulang dengan selamat dari embel-embel berita desa yang penuh ilmu mistis. Sebenarnya biasa saja masuk ke Kajang Dalam, masyarakatnya baik dan ramah, perempuannya juga cantik-cantik. Dugaan-dugaan mistis seperti ini yang akhirnya membuat banyak orang insecure on travelling. Selama niatnya baik nggak perlu takut sama hal-hal seperti ini menurut saya.

Mamak sedang memasak daging kuda dengan tungku tanah liat untuk acara Minro Baji (Foto oleh: Chandra Kartika .G.)
Minro Baji yang berarti "kembali baik" adalah sebuah acara upacara penerimaan bagi pasangan kawin lari yang telah direstui keluarga dan masyarakat sekitar. Pasangan kawin lari memang cukup banyak di Sulawesi, ini berdasarkan berita yang saya dengar selama di Sulawesi. Hal ini karena ada ketentuan adat yang mengharuskan pasangan pria memberikan sejumlah uang jika ingin menikahi perempuannya. Uang yang diberikan tidak sedikit, bisa mencapai ratusan juta tergantung bibit bobot bebet si perempuan. Yap yap yap, harga fantastis ini banyak yang membuat para pria di Makassar dan sekitarnya kalang kabut dan memilih menikah tanpa restu keluarga. Ya inilah cinta, membutakan dan deritanya tiada akhir. Saya sih bersyukur kalau pasangan di keluarga ini bisa melaksanakan Minro Baji walaupun banyak menanggung malu. Banyak berita pasangan kawin lari yang si prianya mati di bunuh keluarga perempuan karena membawa kabur anak orang. Tragis banget dengernya, semoga ada win win solution untuk masalah seperti ini yah, jadi nggak banyak pasangan yang meninggal karena memperjuangkan cinta mereka :(

Banyak cerita di Kajang dan sekitarnya yang terekam dengan baik di memori saya, sayangnya belum bisa tertuang seluruhnya dalam sebuah tulisan. Saya berharap bisa menulis novel mengenai pengalaman saya di beberapa wilayah di Sulawesi dan nggak lupa Kalimantan yang amat saya kagumi. Terima kasih Ekspedisi NKRI :D

Love mucho' 
:x

You Might Also Like

4 la la words

  1. Wah, keren ya bisa masuk team ekspedisi gitu.
    Sempat merinding baca bagian memory kamera yang rusak itu, hihi ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Petrus Andre, thanks for visits yah.
      Kalau tertarik sama ekspedisi bisa browsing "Ekspedisi NKRI". Kemungkinan tahun depan akan ke Maluku, kalau mau ikut bisa daftar sama Kopassus-nya. Untuk tgl pendaftaran next info yah. Makin kenal TNI dan Indonesia pastinya :)

      Delete
  2. Wah daerah mana nih...kayaknya mantap ditempati turing....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ini mirip Badui dalam, letaknya di Kecamatan Kajang, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan.

      Delete

Thank You for your comment. I am really apreciate it.
Just write down your link, i will visit you back. Come again :)

Flickr Images