Misteri Tujuh Rumah Butta Toa: Terbakarnya Rumah Kedelapan

13 Maret 2013 Oleh Chandra Kartika Papan informasi yang terletak di gerbang masuk Butta Toa. Foto oleh Ridwan Amin Menurut info...

13 Maret 2013
Oleh Chandra Kartika

Papan informasi yang terletak di gerbang masuk Butta Toa. Foto oleh Ridwan Amin

Menurut informasi warga setempat, pemukiman awal masyarakat Malino adalah Butta Toa atau ‘Tanah Tua’ di Kelurahan Bulutana. Asal mula kata Bulutana dari bahasa Makassar adalah “bulu” yang berarti ‘bukit’ dan “tana” yang berarti tanah. Di Butta Toa inilah masih banyak tersimpan adat istiadat yang dilestarikan, seperti upacara adat hasil panen atau Saukang, sistem kekerabatan/rumpun “Adat Sampulonrua (Adat 12)”, permainan tradisional Lanja, dan dua rumah adat yang berusia ratusan tahun, Balla Lompoa dan Balla Jambu. Tidak hanya itu, Butta Toa juga menyimpan mitos atau kepercayaan masyarakat setempat perihal keberadaan rumah adat yang mereka lestarikan tersebut. Adat Sampulonrua merupakan sistem kekerabatan yang dibentuk sebelum tahun 1942 akibat adanya komunitas di Bulutana. Keberadaan adat tersebut diawali dengan adanya 3 rumah yaitu Balla Lompoa, Balla Jambu, dan Balla Tinggia.

Amir Selle (53 tahun), pemangku adat yang dikenal dengan gelar Gallarrang keenam, mengatakan bahwa sekitar lebih dari 400 tahun lalu, rumah adat di Butta Toa didirikan, tidak diketahui oleh siapa. Rumah tersebut telah diwariskan secara turun menurun hingga keturunan ketujuh,  yaitu Amir Selle dan keluarga. Dikisahkan bahwa dahulu rumah di Butta Toa berjumlah 7 buah. Semua rumah menghadap ke timur yang berarti penghormatan terhadap matahari sebagai pembawa kehidupan di dunia ini. Suatu hari, ketika ada rumah baru dibangun yang biasa disebut rumah kedelapan, rumah tersebut terbakar. Hal tersebut terus berlangsung setiap ada rumah baru atau kedelapan didirikan sehingga dikenal dengan mitos tujuh rumah.

Mitos tersebut berakhir sekitar tahun 1965 ketika terjadi kebakaran rumah kedelapan yang terakhir. Karena laju pertambahan penduduk yang terus meningkat dan kepercayaan terhadap Allah SWT yang kuat, akhirnya rumah di Butta Toa terus bertambah puluhan hingga kini. Pada tahun 1971 terjadi peristiwa naas yaitu terbakarnya 4 rumah di Butta Toa akibat lampu temple (semacam pelita), yaitu Balla Tinggia, Nyalang, Coleng, dan Bajini. Hal ini disebabkan oleh kelalaian penghuni di Balla Tinggia, salah satu nama rumah adat yang terbakar, yang tidak sengaja menyenggol lampu tempel tersebut ke kain dan api mulai membesar sehingga merembet ke rumah di sekitarnya. Walaupun pada masa itu jarak antara rumah berjauhan, namun karena langkanya sumber dan persediaan air maka kebakaran besar tidak dapat dihindari.

Masyarakat memutuskan untuk menjaga Balla Jambu dan Balla Lompoa dari kepungan api. Rumah Balla Bongki yang terletak jauh di Barat atau di belakang Balla Lompoa sebelumnya sudah hilang lebih dahulu, baik penghuni dan rumahnya. Hal ini yang menjadi misteri hingga kini. Oleh karena itu, saat ini hanya tersisa dua rumah adat yang berusia ratusan tahun. Balla Jambu merupakan kediaman Karaeng, 'Raja', dan Balla Lompoa merupakan rumah penyimpan benda pusaka, yaitu parang, tombak, dan tameng. Keduanya merupakan pemangku adat tertinggi dalam “Adat Sampulonrua (12 adat)”. 
Rumah adat Balla Lompoa yang masih dipertahankan keasliannya. Foto oleh Ismi Yuliati
Menurut M. Said, pemegang gelar Batangpa’ Jeko (pembantu bidang perdata dan musim) dalam adat Sampulonrua, pada tahun 1973 diadakan lomba desa. Hal ini menyebabkan perubahan dalam arsitektur rumah yang semula semua menghadap timur kemudian menghadap ke lapangan utama Butta Toa. Saat ini, masih ada beberapa rumah yang tetap terjaga keasliannya dan masyarakat masih menjunjung tinggi warisan dari leluhurnya. Seiring perkembangan zaman, pemukiman di Butta Toa semakin bertambah, tetapi pemukiman yang terletak agak ke bawah atau bukan di sekitar lapangan utama yang masih menghadap ke timur. Jadi, jika kamu berkunjung ke Butta Toa, kamu akan lihat tata letak pemukiman dan rumah yang begitu dijaga kelestariannya. Alangkah senangnya, jika pemukiman yang begitu asri dan menjaga tata letak yang apik ini bisa ditiru masyarakat perkotaan.
Pemandangan di depan Rumah Adat Balla Lompoa. Foto oleh Ismi Yuliati

Malino, Maret 2013

Editing foto oleh Chandra Kartika

You Might Also Like

0 la la words

Thank You for your comment. I am really apreciate it.
Just write down your link, i will visit you back. Come again :)

Flickr Images