MENJAJAKI GUNUNG BAWAKARAENG, SULAWESI SELATAN

Setahun lalu, tepatnya di bulan Maret sampai Juli 2013, saya melakukan perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup, sebuah ekspedisi di S...

Setahun lalu, tepatnya di bulan Maret sampai Juli 2013, saya melakukan perjalanan yang tak terlupakan seumur hidup, sebuah ekspedisi di Sulawesi Selatan. Tergabung dalam Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013 bersama para TNI dan peneliti se-Indonesia, saya dan kawan-kawan menjelajahi Sulawesi bagian selatan. Perjalanan dimulai dari Makassar berlanjut ke kabupaten lainnya seperti Bantaeng, Bulukumba, dan Maros.

Saya pernah pos mengenai ekspedisi saya ini beberapa bulan lalu, berjudul "Kajang Dalam: Menikmati Kebertahanan dari Modernisasi". Tulisan tersebut merupakan salah satu cerita pengalaman saya dalam ekspedisi NKRI di Sulawesi Selatan. Cerita kali ini, tidak kalah menyenangkan dengan cerita masyarakat dan daerah Kajang di Bulukumba. Jika penasaran, yuk kunjungi pos saya :D 

Mari lanjutkan perjalanan saya di Kabupaten Gowa, Malino Kecamatan Tinggi Moncong. Jika kalian mengenal Cisarua Puncak, Bogor, Malino mirip dengan Cisarua, daerah perbukitan nan sejuk dan dingin yang berjarak sekitar 3-5 jam dari Makassar. Bedanya, perjalanan menuju Malino akan didampingi dengan pemandangan Sungai Jeneberang di sisi kanan tebing jika kita dari Makassar. Sayangnya saya tidak memiliki foto pemandangan sungai yang menakjubkan ini. Akan tetapi, kalian bisa mencoba suatu saat :p

GUNUNG BAWAKARAENG

Matahari terbit di Puncak Bawakaraeng (Foto: Imam Pratama)
Bawakaraeng bermakna, bawa 'mulut' dan karaeng 'raja' yang berarti 'mulut raja'. Akan tetapi, karena gunung adalah ciptaan Tuhan maka makna bergeser menjadi 'mulut Tuhan'. Gunung ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat dan seringkali menjadi tempat orang-orang mencari "ilmu". Yang paling menarik di Bawakaraeng adalah keberadaan Haji Bawakaraeng. Singkatnya, Bawakaraeng dianggap sebagai Mekah kedua oleh karena itu banyak masyarakat yang mendaki gunung dengan tujuan naik haji. Tidak banyak tulisan lengkap atau penelitian mengenai ritual haji tersebut. Saya tidak menyaksikan ritual tersebut langsung karena saya harus meneliti di daerah lain. Semoga saja saya bisa menuliskan Haji Bawakaraeng lain waktu untuk mengisi blog saya ini :))

Gunung dengan tinggi 2845 mdpl memiliki 11 pos dengan pos 10 sebagai puncaknya. Dibutuhkan persiapan yang sangat matang untuk mendakinya karena gunung-gunung di Sulawesi cukup mengerikan. Hahaha, bukan berlebihan, tapi medannya bebatuan dengan kisaran kemiringan 70 derajat bahkan 90 derajat. Untuk mencapai puncak saya beserta tim ekspedisi yang bukan TNI membutuhkan waktu dua hari dengan bermalam di pos 5. Kalau kita membicarakan TNI, mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari sehari. Waw! kekuatan yang luar biasa dengan medan bebatuan, hutan, dan lereng yang tajam. Berbanggalah Indonesia memiliki tentara yang kuat dan tidak manja :p

Tujuan kami ke puncak Bawakaraeng bukan hanya untuk mendaki dan berfoto, tapi merayakan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2013 oleh Tim Ekspedisi NKRI dan mapala Makassar sekaligus meresmikan patok yang dibuat oleh Tim Ekspedisi NKRI untuk membantu teman-teman pendaki di perjalanannya. Langkah demi langkah kami susuri pepohonan yang rimbun, jalan setapak yang bisa hilang kapan saja jika kita tak waspada. Tanah yang licin untuk didaki. Sampai pada daerah seperti savana di mana saya bisa melihat kupu-kupu dan burung berterbangan. Berjalan mencari sumber air ditemani kicauan burung dan sinar mentari yang masuk di antara pepohonan dan celah bulu mata saya. Sampailah kami  Pos 3, pos yang terkenal angker karena ada penunggu bernama Noni yang mati bunuh diri di salah satu batang pohon yang melintang di tengah jalan. Yap, itu mengerikan. Konon ia hobi mengganggu perempuan pendaki, entah apa alasannya.

Di Pos 3 dilewati sungai yang kejernihan airnya lebih enak dari air O2 mana pun. Jika kamu menyelupkan tangan ke air tersebut, kamu masih bisa melihat dengan jelas ruas jari dan garis tanganmu disertai sejuknya air sesungguhnya (baca: bukan air dari lemari es). Setiap pos ke pos lain di Bawakaraeng memiliki medan yang berbeda, ini seperti main games setiap pindah level. Selalu ada tantangan baru setelah check point. Ada pos yang sangat berkesan, walaupun pos lain juga melekat erat di benak saya, Pos 5-6. Pos ini sungguh menakjubkan, Hutan Lumut, nama itu yang paling tepat mewakili medan kali ini. Memasuki hutan ini, tak ada sinar matahari yang sanggup sampai ke telapak kaki, sinar mentari hanya bermain sampai dahan-dahan pohon. Dedaunan meredupkan cahaya dalam perjalanan kami. Akan tetapi, mentari yang berhasil masuk melewati celah dedaunan akan memantulkan cahayanya pada batang-batang kayu yang tertutup lumut. Mereka berkilau layaknya bebatuan jamrut yang menempel di dinding pohon. Saya bersyukur bisa menyimpan memori luar biasa ini.

Kejernihan kali yang mengalir di Lembah Ramma (Foto: Imam Pratama)
Tim Ekspedisi sedang membuat patok di Pos 4 (Foto: Imam Pratama)
(Foto: Abd Haris Agam)
Sungai yang mengalir di Pos 8 dari G. Bawakaraeng (Foto: Imam Pratama)
Pemandangan dari Puncak Bawakaraeng (Foto: Imam Pratama)
Upacara Harkitnas di Puncak Bawakaraeng, Pos 10 (Foto: Ridwan Amin)


Sayangnya tidak setiap pos dapat saya ceritakan detil.hhu, sedikit demi sedikit dulu aja biar seperti teaser. Haha,

Ciao

N.B:
Saya juga sempat menulis perjalanan Ekspedisi NKRI secara singkat dalam Majalah Suara Mahasiswa edisi 30. Promosi sedikit yaaa :D

You Might Also Like

0 la la words

Thank You for your comment. I am really apreciate it.
Just write down your link, i will visit you back. Come again :)

Flickr Images